Rabu, 08 Juli 2015

Kacamata Chaca

"Pakai kacamata itu seakan-akan dunia begitu bersinar"
Chaca Rhunniesha

Celitukan itu aku ucapkan tadi pagi saat teman kamarku berkomentar "Tumben pakai kacamata"
Aku hanya cengengesan  sambil berdiri depan cermin, membetulkan letak kacamataku...
Namun ketika aku jawab kementarnya dia malah membalas "Matamu aja yang bureem, sama kaya hidupmu"
Jlebbb!!!
Oh, My God.... Tega sekali dia bilang begitu... *Lebaynya mulai kambuh... hehehe

Hey, ini bukan tentang hidupku...
ini tentang mataku, tentang aku yang malas pakai kacamata, tentang mataku yang entah sudah meningkat sampai berapa minusnya...
Ingin rasanya aku maki dia dengan omongan itu... Tapi ini lah aku, yang ada malah cengengesan tak jelas depan cermin. Katanya kalau aku pakai kacamata lebih terlihat dewasa... Oh, no... Aku ingin terlihat muda ajaa, pengen terlihat remaja aja. Biar nggak ada yang nyangka umurku udah kepala dua *Ups, Pake dibilang lagi. Ketahuan atuh, Cha...

Oke, fokus kembali ke kacamata
tadi pagi mataku sangat berair, merah dan perih. akhirnya aku bongkar laci harta karunku *tuh, kan lebay mencari kacamataku yang entah dimana, kemudian semprot cairan pembersih kacamata dan jeng.. jeng... tambah cantik deh aku pake kacamata.
kenapa aku langsung pake kacamata???
Aduh, aku ngga mau kejadian yang dulu-dulu terulang... mataku super sensitif. efeknya bisa-bisa bola mataku yang berwarna putih membengkak dan balapan dengan yang warna hitam. dan efeknya berlanjut saat mendirikan sholat, bayangin aja ketika rukuk dan sujud mataku seakan-akan mau copot padahal dengan sekuat tenaga aku pejamkan mata saat itu. dan sakitnya... subhanallah banget...
Makanya mungkin untuk beberapa hari ini kayanya kudu pake kacamata dulu..

Minggu, 05 Juli 2015

Bukan Lagi Sekedar Angka

Alhamdulillah...
Hari ini tepat usia saya 23 tahun (tua banget ya... hehe)
Jadi inget ketika menginjak usia 20 tahun, waktu itu saya nangis bombay. Kenapa? Karena usia saya sudah tidak lagi belasan, bukan lagi anak remaja yang bisa seenaknya, sudah harus jadi contoh terbaik buat adik saya. Rasanya pundak saya semakin berat...

Namun, nyatanya di usia 21 hidup saya terasa begini-begini saja. Ngga ada peningkatan, yang ada peningkatan stress karena menjelang skripsi. Mental saya kembali diuji, saat dosen mentah-mentah menolak judul skripsi yang saya ajukan. Tetapi, tangan Allah tak berhenti untuk terus membantu saya, untuk terus di samping saya dan untuk terus menemani saya. Ya, saya yang banyak dosa ini, saya yang tak tahu diri ini. Sedih rasanya kalau mengingat semua itu...

Kini, di usia yang ke 23 tahun ini nyatanya masih sama seperti itu. Belum jadi apa-apa. belum jadi siapa-siapa. disaat teman-teman seusia saya mulai menapaki tangga yang lebih tinggi, saya masih terseok-seok menujunya. Saat teman-teman seusia saya sudah memiliki pasangan, saya masih setia dalam kesendirian. Masih asyik dengan dunia saya. Mungkin banyak yang bertanya kapan saya ikut menyusul mereka, saya seperti tertohok!!! Adakah yang mau menikahi saya??? Saya yang begitu bla bla bla seperti di atas. Rasanya langkah ini seperti terhenti dan menganjurkan saya untuk berputar arah. dan sorai-sorai di belakang saya berkata "Kamu belum pantas!!!" Hal ini yang selalu menyadarkan saya. "SAYA BELUM PANTAS".
Benarkah saya belum pantas??? Itu kata-kata yang selalu saya ucapkan saat berbalik arah. Bukan menyerah, tapi saya tahu ini belum saatnya. Ini bukan waktu untuk saya.
Mungkin kelak akan ada pangeran yang berlapangdada menerima saya, bersedia membimbing saya dan mau menjadi pilot kehidupan saya. . .
Kamu kah dia???

Ini bukan lagi sekedar angka, ini adalah sebuah tamparan yang berkali-kali menyadarkan saya dari mimpi panjang. menuntut saya untuk kembali berhitung tentang kasih sayang Allah, kasih sayang orang tua, kasih sayang kakak-kakak dan kewajiban saya menjadi seorang kakak. Dan yang terpenting adalah menghitung setiap butir dosa yang sudah saya lakukan, menghitung setiap luka yang saya torehkan di hati orang yang mengenal saya, dan menghitung besarnya pengampunan Allah disetiap nafas saya.

"Jika dosa itu berbau, mungkin tak akan ada yang mau mengenal, berteman, bersahabat apalagi menikahi saya. Terima kasih Yaa Allah, telah menutup semua aib saya. Terima kasih telah Kau hadirkan orang-orang terbaik di sekeliling saya. Terima Kasih untuk segalanya."




Jumat, 17 April 2015

#Malam tantangan OWOP 2

Tadi siang akau menelusuri jalan
Mereka bilang aku harus bangga
Karena negeriku, negeri yang kaya
Aku hanya diam

Setiba di rumah aku buka menutup saji di atas meja bututku
Kosong!
Aku beranjak membuka gentong tua, yang kata ibu untuk tempat beras
Sama, kosong!
Akhirnya aku memutuskan untuk berbaring
Walau perut masih saja berdendang ria
Mataku menatap lurus ke atap rumah
Ada bulan yang menginip dibalik geting pecah
Untung hujan tidak turun malam ini

Inilah negeriku yang kaya
Beratap tapi langit masih bisa kutatap
Beratap tapi matahari masih terus menyengat
Beratap tapi hujan masih saja menumpang dalam lelap

Esok aku harus kembali temui mereka
Dan bertanya,
"seperti inikah yan namanya negeri yang kaya?"


#OWOP 2

Senin, 06 April 2015

Sepi yang Terbungkus Rindu

Sudah sepekan bulan tergantung di langit malam tanpa ditemani titik-titik bintang
Ingin sekali aku bertanya padanya, "Tidak kesepiankah kamu di sana?"
tapi tanpa kutanya pun bulan akan tetap di sana, bersama malam yang gelap.
Bukan salah bintang yang tak ingin menemani bulan.
Tapi kesetiaan bulan yang tetap ada walau tanpa bintang.
Sampai kapan pun bulan tetap akan ada dilangit malam itu.
Aku kembali tertunduk lesu.
Haruskah aku seperti bulan?
Tetap di sini tanpa siapa-siapa.
Rasanya mustahil.
Jam terus berdetak, sama seperti detak jantungku yang terus berpacu.
Mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang aku buat sendiri.
Menimbang-nimbang segala harap dan nyata dalam timbangan hati.
Terkadang pula memaksakan hati bersandar pada realita.
Huft... Betapa sulitnya.
Menahan sebongkah rasa yang tertahan sekian lama.
Hanya tetesan air yang ada di sudut mata.
Menunggumu yang entah dimana.
Haruskah aku tetap berdiri di sini?

Titik-titik Cahaya

Malam itu aku duduk di sudut taman
Membungkus kenangan yang telah lama tertelan
Mencari sisa cahaya yang sempat kau tinggalkan
Masih bolehkan aku memungutnya?

Sudah sewindu, kau lari dari pandangan
Aku sudah mencoba meraba-raba jejakmu
Tapi rindu saja tak cukup membuat kau menoleh, walau pelan...
haruskah aku pun mengejarmu dalam ketidakberdayaan?

Cinta... Sungguh aku terseok-seok dalam titik cahaya yang mulai padam
Aku tak mampu berhenti walaup sejenak, meskipun kata orang cahaya itu sungguh indah
Sama sepertimu menoleh pun aku tak unya cukup waktu

Tapi sungguh kini aku sudah lelah
Bila suatu saat kau kembali, temui aku di atas rumput ini.
Semoga titik cahaya ini belum padam sampai kau kembali dan menemukanku sendiri.

#OWOP 2

Senin, 16 Maret 2015

Andita di Halte Bus (Bagian Pertama)

Hari ini udara pagi menyapa dengan lembut. Sedikit merayap ke sela-sela lipatan jilbab unguku, seolah tak kan dia biarkan satu orang pun menolak dinginnya. Aku menempelkan kedua telapak tanganku dan mengosok-gosoknya, berharap ada sedikit hangat yang hinggap kemudian mengusapkannya ke pipi.
09.15 Halte Bus 
Bus yang kutunggu sudah telat dari biasanya. Orang disekitarku pun tak mulai gusar. Tak sedikit dari mereka mulai mengerutu, melirik arlojinya berkali-kali dan celingukan berharap bus yang kami tunggu segera muncul dari belokan sebelah kanan sana. Aku pun merilik pemuda di sampingku yang tampaknya hanya dia yang tenang, karena bus tak juga datang. Ditelinganya terpasang earphone dan jemarinya tampak lincah menekan layak ponselnya. Kelapanya sedikit berangguk-angguk, mungkin seirama dengan lagu yang dia dengar dibalik telinganya. Aku mulai memperhatikan setelan pakaian yang ia pakai, celana jeans berwarna gelap dan kemeja biru dengan bagaian lengannya di gulung hingga siku, dalam pangkuannya ada tas gendong hitam lusuh dan jaket merah tua. Aku mulai sedikit penasaran. Aku mencoba mencuri-curi pandang pada layar ponsel yang dipandangnya. Oh, dia sedang berbalas pesan di sebuah aplikasi instant messaging, entah dengan siapa.
09.30 Masih di Halte Bus 
Rupanya bus yang kami tunggu telah tiba orang-orang merebut menaikinya, entah dari pintu bagian depan maupun belakang. Dan nampaknya hampir sesak didalam. Aku memutuskan untuk menunggu bus berikutnya saja. Aku tak sanggup jika harus ikut berdesakan seperti itu di sana, bisa jadi badanku yang kurus ini jadi adonan kue yang diputer kesana kemari. Jilbabku yang sudah rapi pun mencong sana-sini dan bajuku yang sudah kusetrika kusut dan bercampur aroma macam-macam. 
Aku memutuskan untuk duduk kembali di kursi halte, kini hanya tinggal beberapa orang yang duduk di sana termasuk pemuda tadi. Kini ia sudah memakai jaket merah tuanya, tampak di sebelah dada kiri dari jaketnya sebuah logo sebuah kesebelasan sepak bola luar negeri. Aku tidak berani menebak itu logo apa, aku awam soal persepakbolaan. Ia merapatkan seluruh reseleting jaketnya, mungkin ia juga mulai kedinginan. Kali ini udah tidak ada earphone yang menempel di telinganya, dan sepertinya ponselnya pun sudah ia simpan entah dimana.  
Tiba-tiba gerimis mulai turun dengan indah, semula aku ingin kembali memperhatikan pemuda itu, namun gerimis lebih menarik untuk aku pandangi tiap tetesnya. Aku kembali menggosok-gosokan telapak tanganku. 
“Kira-kira hujannya awet nggak ya, mbak?” Pemuda itu kini mulai buka suara. Sebenarnya aku sedikit terkejut. Tak tahu kalau dia akan mulai menegur. 
“Aku bukan ahli cuaca. Aku hanya penikmat hujan.” Jawabku tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. 
“Mbak ini bisa aja jawabnya.” Ia sedikit menyikut lenganku. Aku mulai menoleh ke arahnya. Dia sedikit menahan tawa. Mungkin jawabanku sedikit konyol. 
“Memangnya kamu mau kemana? Kenapa tadi nggak naik ke bus?” 
“Lah, mbak sendiri kok duduk lagi?"
"Aku nggak begitu terburu-buru. Jadi memilih bus yang kosong saja biar nyaman."
"Nyaman ya? Lebih nyaman pakai mobil sendiri dong mbak..."Aku pun terkekeh mendengarnya. "Anak kecil juga udah tau kalau soal itu. Aku Andita." Tanpa sungkan lagi aku mengulurkan tangan, sebagai tanda perkenalan.
"Mario." Ia menjabat tanganku dengan tegas.
"Kamu sudah kerja?" Naluri kepo-ku mulai kumat.
"Sudah. Dan satu jam yang lalu sudah dipecat kembali."
Aku sedikit terkejut.
"Kenapa?" Tuh kan, kepo. 
Mario hanya tersenyum.
"Saya tak pernah bertanya 'kenapa?' pada Tuhan, mbak. Justru saya selalu bilang padaNya 'Kejutan istimewa apalagi yang akan Kau berikan padaku?'. Hari ini saya dipecat dari pekerjaan, dan bertemu mbak di halte ini. Mungkin ini kejutan dari Dia." Tatapannya lurus. Wajahnya yang sedari tadi begitu santai sekarang berubah kaku dan serius.
"Lantas sekarang apa rencanamu?"
"Bersyukur karna bertemu dengan Mbak Andita di sini. Ini cukup membuat saya bahagia."
"Kamu berlebihan."
"Menikmati hujan dengan teman yang mampu diajak mengobrol, itu merupakan hal istimewa buat saya. Hidup saya begitu sepi."
"Kamu kesepian?"
"Jika ada kata yang dapat diartikan lebih dari sekedar kesepian itulah saya."
Sebegitu kesepiankah dia?, hatiku mulai menerka.
"Mbak suka hujan?"
Aku mengangguk pelan.

bersambung...

Kepada Cinta

Kepada cinta yang tak kutemukan muaranya
Aku hanya ingin melepaskan segala gundah ini
Gundah yang membuatku lelah dari hari ke hari

Kepada cinta yang tak pernah kutemukan muaranya
Sanggupkah kau datang untuk sekejap saja?
Sanggupkah kau menghapus lelah ini?
Untukku...

Kepada cinta yang tak sanggup kutemukan muaranya
Aku hanya ingin kembali tersenyum tanpa beban
Tanpa adanya bekas luka yang kau ukir kemarin...
Seandainya saja bisa...

Kepada cinta yang sungguh aku lelah menemukan muaramu
Dengarlah...
Aku hanya wanita biasa.

Serang, 16 Maret 2015