Selasa, 02 Desember 2014

Harga dari dari sebuah cinta

Aku bicara tentang rintik hujan di musim kemarau..
Itu tangisku.. Di dadaku...
Yang mampu diterjemahkan oleh langit, dan tak terbaca oleh matamu

Mencintai kamu, sama seperti mencintai angin
Jika terlalu banyak bisa masuk angin..
Mencintai kamu, sama seperti menggenggam salju
Hatiku kedinginan, dan kau mengalir begitu saja..

Sadarkah kamu,
Kita sering berbincang dalam diam
Tertawa berdua dalam kesunyian yang kita ciptakan sendiri
Bercengkerama dalam bayangan, dan saling menerka perasaan
Ingin mencoba membaca maksud hati, namun tak bisa dijelaskan

Senyummu, adalah alasan mengapa aku tetap tinggal
Alasan mengapa luka-lukaku memilih untuk diam
Hening dan sendiri..

Harusnya keputusan yang kau buat, apapun itu..
Pengkhianatan, beribu sesal..

Aku bersyukur, itu mengajarkan bahwa cinta butuh mengorbanan
Cinta butuh harga itu dibayar,
Dan harga itu cukup mahal...

*diambil dari sebuah musikalisasi puisi dari Daud Antonius..

Senin, 01 Desember 2014

Lagi-lagi tentang kamu, Cinta...

"Biar biarkan cinta, Membuat kisahnya sendiri
Senang, susah, galau, bahagia itu pasti ada
Biar biarkan cinta, Membuat keputusan akhir
Denganmu tanpamu cinta
Kutetap harus hidup, Hidup harus berjalan"
-Biarlah Cinta

Kutipan kalimat di atas saya ambil dari lirik lagu yang berjudul "Biarlah Cinta" yang menjadi ost.film Wanita Tetap Wanita. Ups, Kali ini saya bukan untuk membahas film tersebut. Sebenarnya film tersebut cukup bagus, namun hanya beberapa karakter saja yang menonjol untuk mewakili judulnya.
Dan sekarang disini saya akan bahas tentang sepenggal lirik lagu yang menjadi kutipan awal tulisan ini. Lagi-lagi soal makhluk yang bernama "cinta", mungkin sebagian orang sudah bosan mendengar kata itu, atau bahkan sudah muak. Ya, salah satunya mungkin saya ;)
Entah mengapa setelah beberapa kali mendengar lagu ini, cukup membuat saya terhentak. Yap, benar ternyata cintalah gara-garanya. Mengapa setiap masalah selalu ada sangkutpautnya dengan dia?
sampai sekarang saya pun tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti.
Namun, ada satu larik yang membuat saya tersadar "Kutetap harus hidup, hidup harus berjalan". Wow,.. mungkin ada sebagian orang di dunia ini lebih memilih untuk mati, tak melanjutkan hidup atau paling minimal stress lah, lagi-lagi gara-gara makhluk yang bernama cinta. tapi di lirik ini bagi saya memberikan optimisme sendiri, bahwa apapun itu hidup harus berjalan... Ya, dunia ini terus berputar hingga Sang Maha Cinta itu menghentikannya. 
Mungkin boleh ada pasangan yang saling menyakiti dan tersakiti, dengan sadar maupun tak sadar. Ada orang tua yang hanya memikirkan dirinya sendiri, sampai lupa ada anak yang perlu cinta mereka. Ada sabahat yang mulai egois, yang sudah lupa makna cinta di balik persahabatan mereka. Dan pada ujungnya semua akan bermuara pada kata "Terluka".
Dan yang namanya luka mungkin bisa sembuh, tapi sampai kapanpun bekas tetap ada.
Tapi, yang namanya hidup tetap harus berjalan, tak ada yang mampu menghentikannya selain Tuhan.
dan saya, kamu, kita semua hanya bisa melakoninya.
Biarkan makhluk yang bernama cinta itu membuat ceritanya dan memutuskan akhirnya sendiri. Apakah ia lebih memilih bersahabat dengan luka atau suka??? Saya dan kita semua tak punya hak apa-apa dengan dia.