Minggu, 05 Juli 2015

Bukan Lagi Sekedar Angka

Alhamdulillah...
Hari ini tepat usia saya 23 tahun (tua banget ya... hehe)
Jadi inget ketika menginjak usia 20 tahun, waktu itu saya nangis bombay. Kenapa? Karena usia saya sudah tidak lagi belasan, bukan lagi anak remaja yang bisa seenaknya, sudah harus jadi contoh terbaik buat adik saya. Rasanya pundak saya semakin berat...

Namun, nyatanya di usia 21 hidup saya terasa begini-begini saja. Ngga ada peningkatan, yang ada peningkatan stress karena menjelang skripsi. Mental saya kembali diuji, saat dosen mentah-mentah menolak judul skripsi yang saya ajukan. Tetapi, tangan Allah tak berhenti untuk terus membantu saya, untuk terus di samping saya dan untuk terus menemani saya. Ya, saya yang banyak dosa ini, saya yang tak tahu diri ini. Sedih rasanya kalau mengingat semua itu...

Kini, di usia yang ke 23 tahun ini nyatanya masih sama seperti itu. Belum jadi apa-apa. belum jadi siapa-siapa. disaat teman-teman seusia saya mulai menapaki tangga yang lebih tinggi, saya masih terseok-seok menujunya. Saat teman-teman seusia saya sudah memiliki pasangan, saya masih setia dalam kesendirian. Masih asyik dengan dunia saya. Mungkin banyak yang bertanya kapan saya ikut menyusul mereka, saya seperti tertohok!!! Adakah yang mau menikahi saya??? Saya yang begitu bla bla bla seperti di atas. Rasanya langkah ini seperti terhenti dan menganjurkan saya untuk berputar arah. dan sorai-sorai di belakang saya berkata "Kamu belum pantas!!!" Hal ini yang selalu menyadarkan saya. "SAYA BELUM PANTAS".
Benarkah saya belum pantas??? Itu kata-kata yang selalu saya ucapkan saat berbalik arah. Bukan menyerah, tapi saya tahu ini belum saatnya. Ini bukan waktu untuk saya.
Mungkin kelak akan ada pangeran yang berlapangdada menerima saya, bersedia membimbing saya dan mau menjadi pilot kehidupan saya. . .
Kamu kah dia???

Ini bukan lagi sekedar angka, ini adalah sebuah tamparan yang berkali-kali menyadarkan saya dari mimpi panjang. menuntut saya untuk kembali berhitung tentang kasih sayang Allah, kasih sayang orang tua, kasih sayang kakak-kakak dan kewajiban saya menjadi seorang kakak. Dan yang terpenting adalah menghitung setiap butir dosa yang sudah saya lakukan, menghitung setiap luka yang saya torehkan di hati orang yang mengenal saya, dan menghitung besarnya pengampunan Allah disetiap nafas saya.

"Jika dosa itu berbau, mungkin tak akan ada yang mau mengenal, berteman, bersahabat apalagi menikahi saya. Terima kasih Yaa Allah, telah menutup semua aib saya. Terima kasih telah Kau hadirkan orang-orang terbaik di sekeliling saya. Terima Kasih untuk segalanya."




Tidak ada komentar:

Posting Komentar