Selasa, 30 September 2014

Sepotong Kata yang Terlupakan



Selesai jam kantor hari ini, aku ingin sekali cepat sampai rumah. Aku ingin segera mandi, sholat Maghrib, makan dan istirahat untuk meluruskan semua otot-otot pinggang dan punggung yang kaku akibat seharian duduk di depan komputer.
Aku berjalan menelusuri jalan menuju tempat kostku, tidak begitu jauh sehingga cukup dengan berjalan kaki. Sebenarnya aku ada mobil, tapi jarak kantor dan tempat kerja cukup dekat jadi lebih baik jalan kaki saja. Sesampai di depan pagar rumah kost, aku melihat seseorang tengah berdiri tepat di depan pintu kamarku, karena sore itu sudah gelap dan lampu depan kamarku pun belum dinyalakan, aku sedikit kesulitan menebak siapa dia. Aku mendekat, tepatnya berjalan cukup hati-hati, karena tetangga kostku pun masih sepi, kemungkinan mereka belum pulang dari kantornya.
“Baru pulang?”
Deg!
Suara itu, aku kenal. Setelah tepat di depan pintu kamar aku baru dapat melihat dengan jelas seseorang yang menunggu dan menyapaku.
“Juna?” Aku memasang wajah kaget. Beda sekali dia. Terakhir aku bertemu dengannya dua tahun lalu.
Dia hanya tersenyum. Senyumnya masih sama, gundamku dalam hati.
“Jadi aku dibiarin terus berdiri di sini setelah menunggu dua jam?”
Aku baru tersadar dari lamunan. “Oh, iya. Silahkan.” Aku segera membuka pintu kamar dan mempersilahkannya masuk dan membiarkan pintu tetap terbuka.
“Masih ingat tempat kostku di sini?”
“Ya. Awalnya sempat ragu, takut kamu sudah pindah ke tempat lain. Tapi tadi aku tanya ke tetangga yang di ujung dia bilang kamu masih di sini.”
Aku hanya tersenyum dan menyediakan minum dan cemilan kecil.
“Aku mandi dulu ya. Kamu sholat saja di masjid depan.”
Dia mengangguk dan tersenyum. “Seperti biasa, cuman kamu yang selalu nyuruh aku sholat di masjid.”
Aku kembali tersenyum dan dia beranjak ke masjid.
***
Karena persediaan makan berat di tempatku sudah menipis, aku mengajak Juna makan di luar. Seperti biasa aku memesan bakso dan dia memesan nasi goreng.
“Masih suka bakso?” Juna melirikku yang sedang menuangkan sambal dan kecap.
“Tentu.” Jawabku singkat. “Bagaimana di Jepang?”
“Begitulah. Aku tetap saja lebih suka di Indonesia.”
“Kenapa?”
“Karena mamah, Mbak Shopi, Dewa dan kamu.”
“Aku? Apa hubungannya sama aku?” Aku mencoba menyembunyikan ekspresi kegeeranku.
“Kamu lupa tentang rencanaku? Atau lebih tepatnya rencanaku denganmu?” Dia mengerutkan kening dan menatapku dalam.
Aku kemudian tersenyum. “Tentu aku masih ingat, Mas. Dan tak pernah aku lupakan itu. Malah kalau kamu lupa aku akan menagihnya padamu.” Aku mulai memanggilnya dengan sapaan “mas”, seperti dulu.
“Tapi aku tidak pelupa ‘kan?” matanya sedikit menggodaku.
Aku hanya tersenyum padanya, pada dia lelaki yang kutunggu selama dua tahun tanpa kabar dan kepastian. Lelaki yang kelak membawaku dan anak-anakku ke surga. Semoga.
Selesai makan kami segera ke luar area itu. Aku menunggu di pintu keluar sementara Juna ke parkiran.
Di luar tempat makan, seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya datang menghampiriku.
"Beri kami sedekah, Bu!" Wanita pengemis itu berkata kepadaku.
Aku kemudian membuka dompet lalu menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 5000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Namun wanita itu hanya diam melihat uangku yang sudah berpindah di tangannya. Tak ada sepotong kata yang terucap dari bibirnya.
“Kenapa? Kurang ya, Bu?”
Putri kecilnya mengangguk dan seperti hendak mengatakan sesuatu namun wanita itu segera mengacungkan jari telunjuknya dan meletakkannya di depan mulutnya.
“Tidak, Bu. Terima kasih.” Wanita itu segera pergi menuntun pergi putri kecilnya.
Tak lama mobil Juna datang. “Maaf lama, mobilku tak bisa keluar, parkirnya penuh.”
Aku hanya mengangguk dan segera duduk di sampingnya.
Keluar dari area tempat makan, aku melihat kembali wanita pengemis yang tadi meminta uang padaku. Dia sedang duduk bersama putrinya di pinggir jalan sambil menikmati gorengan dan satu botol air mineral di sampingnnya. Melihat pemandangan itu air mataku meleleh. Hatiku seperti didombak keras. Bodoh sekali aku tadi bertanya apakah uang pemberianku kurang atau tidak. Sudah jelas-jelas pasti kurang. Padahal uang yang tadi aku bayarkan saat makan malam saja lebih dari lima ribu rupiah. Dasar bodoh sekali aku!
“Mengapa menangis, Fen?” Rupanya Juna melihat aku menangis.
“Berhenti, Mas!” dengan spontan Juna mengerem mobilnya, untung saja saat itu jalanan tidak begitu ramai. Aku segera keluar mobil dan berlari menghampiri wanita pengemis tadi.
“Maaf,”
Putri kecilnya tersenyum melihatku. Mungkin dia masih ingat dengan wajahku.
“Ini buat kamu, Dek.” Aku menyodorkan selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah.
Wanita itu kaget melihat uang yang aku sodorkan, mungkin begitu besar di mata mereka. Setelah uangku berpindah ke tangan mungil anaknya. Wanita itu langsung meraih tanganku dan meciuminya tak henti-henti.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih, Bu! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk Ibu dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk Ibu dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga Ibu dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"
Aku tidak menyangka akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Aku mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja sama seperti tadi dan awalnya aku pun tidak peduli apa yang akan dia ucapkan, hatiku hanya murni ingin memberi, hanya ingin mereka pun menikmati makanan enak sampai kenyang seperti aku. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis itu sungguh membuatku terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi aku mendengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Nak, Alhamdulillah akhirnya rizki untuk kakakmu dan bapak di rumah juga datang.”
Deg!
Hatiku tergedor kembali dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar tidak hanya ia dan putrinya yang bisa makan, tapi keluarga yang di rumahnya juga. Kemudian mereka berdua berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal, mungkin untuk membeli makan.
Aku masih diam di sana.
“Sudah?” Juna menepuk pundakku.
“Eh, iya. Hayo pulang.” Aku mencoba menghapus air mataku.
Di dalam mobil aku masih saja terdiam, aku sendiri tak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Hanya menatap ke depan dengan  kosong.
“Kamu melamunkan apa, Fen?”
“Kamu tahu tidak, Mas? Aku tadi memberi sedekah kepada pengemis itu hanya sebagian kecil dari uang-uang yang selama ini aku dapatkan. Namun, saat menerimanya, dia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan keluargaku, anak-anakku yang aku sendiri pun belum pernah berdoa untuk mereka karena memang mereka belum ada. Panjang sekali dia berdoa, Mas.”
Aku menghela nafas panjang.
“Dia hanya menerima karunia dari Allah sebesar lima puluh ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal setiap kali aku mengecek saldo di ATM dan melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk, tersenyum dan sesekali mengucap hamdalah. Mas..., aku malu kepada Allah!” Aku memalingkan muka keluar jendela. Menatap langit yang kian menghitam. Tanpa bintang.
“Dia terima hal yang sangat kecil bagiku namun bersyukurnya begitu hebat kepada Allah dan berterima kasih kepadaku.” Ucapku lirih. Entah Juna mendengarnya atau tidak.
Juna memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Terdiam, melirikku dan kembali menatap jauh di depannya. Aku dapat menebak, dia sedang memikirkan hal yang sama denganku.
“Kalau memang begitu. Kita belum bisa masuk surga, Fen. Wanita yang mempunyai berjuta syukur tadi yang lebih berhak.”
Aku melirik Juna. “Mulai sekarang selalu ingatkan aku ya, Mas.”
“Tapi hari ini kamu yang mengingatkan aku. Aku bahkan jarang mengucapkan kalimah ‘hamdalah’ itu.”
Dia menatapku dalam. “Masih mau membangun rencana itu denganku, Fen?”
Aku mengangguk.
“Aku hanya berharap Allah selalu mengingatkan kita dengan cara-cara terbaikNya.”
“Terima kasih, Fen…”
Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!
***
30 Juli 2011