Hari ini udara pagi menyapa dengan lembut. Sedikit merayap ke sela-sela lipatan jilbab unguku, seolah tak kan dia biarkan satu orang pun menolak dinginnya. Aku menempelkan kedua telapak tanganku dan mengosok-gosoknya, berharap ada sedikit hangat yang hinggap kemudian mengusapkannya ke pipi.
09.15 Halte Bus
Bus yang kutunggu sudah telat dari biasanya. Orang disekitarku pun tak mulai gusar. Tak sedikit dari mereka mulai mengerutu, melirik arlojinya berkali-kali dan celingukan berharap bus yang kami tunggu segera muncul dari belokan sebelah kanan sana. Aku pun merilik pemuda di sampingku yang tampaknya hanya dia yang tenang, karena bus tak juga datang. Ditelinganya terpasang earphone dan jemarinya tampak lincah menekan layak ponselnya. Kelapanya sedikit berangguk-angguk, mungkin seirama dengan lagu yang dia dengar dibalik telinganya. Aku mulai memperhatikan setelan pakaian yang ia pakai, celana jeans berwarna gelap dan kemeja biru dengan bagaian lengannya di gulung hingga siku, dalam pangkuannya ada tas gendong hitam lusuh dan jaket merah tua. Aku mulai sedikit penasaran. Aku mencoba mencuri-curi pandang pada layar ponsel yang dipandangnya. Oh, dia sedang berbalas pesan di sebuah aplikasi instant messaging, entah dengan siapa.
Bus yang kutunggu sudah telat dari biasanya. Orang disekitarku pun tak mulai gusar. Tak sedikit dari mereka mulai mengerutu, melirik arlojinya berkali-kali dan celingukan berharap bus yang kami tunggu segera muncul dari belokan sebelah kanan sana. Aku pun merilik pemuda di sampingku yang tampaknya hanya dia yang tenang, karena bus tak juga datang. Ditelinganya terpasang earphone dan jemarinya tampak lincah menekan layak ponselnya. Kelapanya sedikit berangguk-angguk, mungkin seirama dengan lagu yang dia dengar dibalik telinganya. Aku mulai memperhatikan setelan pakaian yang ia pakai, celana jeans berwarna gelap dan kemeja biru dengan bagaian lengannya di gulung hingga siku, dalam pangkuannya ada tas gendong hitam lusuh dan jaket merah tua. Aku mulai sedikit penasaran. Aku mencoba mencuri-curi pandang pada layar ponsel yang dipandangnya. Oh, dia sedang berbalas pesan di sebuah aplikasi instant messaging, entah dengan siapa.
09.30 Masih di Halte Bus
Rupanya bus yang kami tunggu telah tiba orang-orang merebut menaikinya, entah dari pintu bagian depan maupun belakang. Dan nampaknya hampir sesak didalam. Aku memutuskan untuk menunggu bus berikutnya saja. Aku tak sanggup jika harus ikut berdesakan seperti itu di sana, bisa jadi badanku yang kurus ini jadi adonan kue yang diputer kesana kemari. Jilbabku yang sudah rapi pun mencong sana-sini dan bajuku yang sudah kusetrika kusut dan bercampur aroma macam-macam.
Aku memutuskan untuk duduk kembali di kursi halte, kini hanya tinggal beberapa orang yang duduk di sana termasuk pemuda tadi. Kini ia sudah memakai jaket merah tuanya, tampak di sebelah dada kiri dari jaketnya sebuah logo sebuah kesebelasan sepak bola luar negeri. Aku tidak berani menebak itu logo apa, aku awam soal persepakbolaan. Ia merapatkan seluruh reseleting jaketnya, mungkin ia juga mulai kedinginan. Kali ini udah tidak ada earphone yang menempel di telinganya, dan sepertinya ponselnya pun sudah ia simpan entah dimana.
Tiba-tiba gerimis mulai turun dengan indah, semula aku ingin kembali memperhatikan pemuda itu, namun gerimis lebih menarik untuk aku pandangi tiap tetesnya. Aku kembali menggosok-gosokan telapak tanganku.
“Kira-kira hujannya awet nggak ya, mbak?” Pemuda itu kini mulai buka suara. Sebenarnya aku sedikit terkejut. Tak tahu kalau dia akan mulai menegur.
“Aku bukan ahli cuaca. Aku hanya penikmat hujan.” Jawabku tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.
“Mbak ini bisa aja jawabnya.” Ia sedikit menyikut lenganku. Aku mulai menoleh ke arahnya. Dia sedikit menahan tawa. Mungkin jawabanku sedikit konyol.
“Memangnya kamu mau kemana? Kenapa tadi nggak naik ke bus?”
“Lah, mbak sendiri kok duduk lagi?"
"Aku nggak begitu terburu-buru. Jadi memilih bus yang kosong saja biar nyaman."
"Nyaman ya? Lebih nyaman pakai mobil sendiri dong mbak..."Aku pun terkekeh mendengarnya. "Anak kecil juga udah tau kalau soal itu. Aku Andita." Tanpa sungkan lagi aku mengulurkan tangan, sebagai tanda perkenalan.
"Mario." Ia menjabat tanganku dengan tegas.
"Kamu sudah kerja?" Naluri kepo-ku mulai kumat.
"Sudah. Dan satu jam yang lalu sudah dipecat kembali."
Aku sedikit terkejut.
"Kenapa?" Tuh kan, kepo.
Mario hanya tersenyum.
"Saya tak pernah bertanya 'kenapa?' pada Tuhan, mbak. Justru saya selalu bilang padaNya 'Kejutan istimewa apalagi yang akan Kau berikan padaku?'. Hari ini saya dipecat dari pekerjaan, dan bertemu mbak di halte ini. Mungkin ini kejutan dari Dia." Tatapannya lurus. Wajahnya yang sedari tadi begitu santai sekarang berubah kaku dan serius.
"Lantas sekarang apa rencanamu?"
"Bersyukur karna bertemu dengan Mbak Andita di sini. Ini cukup membuat saya bahagia."
"Kamu berlebihan."
"Menikmati hujan dengan teman yang mampu diajak mengobrol, itu merupakan hal istimewa buat saya. Hidup saya begitu sepi."
"Kamu kesepian?"
"Jika ada kata yang dapat diartikan lebih dari sekedar kesepian itulah saya."
Sebegitu kesepiankah dia?, hatiku mulai menerka.
"Mbak suka hujan?"
Aku mengangguk pelan.
bersambung...
Rupanya bus yang kami tunggu telah tiba orang-orang merebut menaikinya, entah dari pintu bagian depan maupun belakang. Dan nampaknya hampir sesak didalam. Aku memutuskan untuk menunggu bus berikutnya saja. Aku tak sanggup jika harus ikut berdesakan seperti itu di sana, bisa jadi badanku yang kurus ini jadi adonan kue yang diputer kesana kemari. Jilbabku yang sudah rapi pun mencong sana-sini dan bajuku yang sudah kusetrika kusut dan bercampur aroma macam-macam.
Aku memutuskan untuk duduk kembali di kursi halte, kini hanya tinggal beberapa orang yang duduk di sana termasuk pemuda tadi. Kini ia sudah memakai jaket merah tuanya, tampak di sebelah dada kiri dari jaketnya sebuah logo sebuah kesebelasan sepak bola luar negeri. Aku tidak berani menebak itu logo apa, aku awam soal persepakbolaan. Ia merapatkan seluruh reseleting jaketnya, mungkin ia juga mulai kedinginan. Kali ini udah tidak ada earphone yang menempel di telinganya, dan sepertinya ponselnya pun sudah ia simpan entah dimana.
Tiba-tiba gerimis mulai turun dengan indah, semula aku ingin kembali memperhatikan pemuda itu, namun gerimis lebih menarik untuk aku pandangi tiap tetesnya. Aku kembali menggosok-gosokan telapak tanganku.
“Kira-kira hujannya awet nggak ya, mbak?” Pemuda itu kini mulai buka suara. Sebenarnya aku sedikit terkejut. Tak tahu kalau dia akan mulai menegur.
“Aku bukan ahli cuaca. Aku hanya penikmat hujan.” Jawabku tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.
“Mbak ini bisa aja jawabnya.” Ia sedikit menyikut lenganku. Aku mulai menoleh ke arahnya. Dia sedikit menahan tawa. Mungkin jawabanku sedikit konyol.
“Memangnya kamu mau kemana? Kenapa tadi nggak naik ke bus?”
“Lah, mbak sendiri kok duduk lagi?"
"Aku nggak begitu terburu-buru. Jadi memilih bus yang kosong saja biar nyaman."
"Nyaman ya? Lebih nyaman pakai mobil sendiri dong mbak..."Aku pun terkekeh mendengarnya. "Anak kecil juga udah tau kalau soal itu. Aku Andita." Tanpa sungkan lagi aku mengulurkan tangan, sebagai tanda perkenalan.
"Mario." Ia menjabat tanganku dengan tegas.
"Kamu sudah kerja?" Naluri kepo-ku mulai kumat.
"Sudah. Dan satu jam yang lalu sudah dipecat kembali."
Aku sedikit terkejut.
"Kenapa?" Tuh kan, kepo.
Mario hanya tersenyum.
"Saya tak pernah bertanya 'kenapa?' pada Tuhan, mbak. Justru saya selalu bilang padaNya 'Kejutan istimewa apalagi yang akan Kau berikan padaku?'. Hari ini saya dipecat dari pekerjaan, dan bertemu mbak di halte ini. Mungkin ini kejutan dari Dia." Tatapannya lurus. Wajahnya yang sedari tadi begitu santai sekarang berubah kaku dan serius.
"Lantas sekarang apa rencanamu?"
"Bersyukur karna bertemu dengan Mbak Andita di sini. Ini cukup membuat saya bahagia."
"Kamu berlebihan."
"Menikmati hujan dengan teman yang mampu diajak mengobrol, itu merupakan hal istimewa buat saya. Hidup saya begitu sepi."
"Kamu kesepian?"
"Jika ada kata yang dapat diartikan lebih dari sekedar kesepian itulah saya."
Sebegitu kesepiankah dia?, hatiku mulai menerka.
"Mbak suka hujan?"
Aku mengangguk pelan.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar