Minggu, 11 Juni 2017

Ngomong Nikah Mulu. Yuk, ngaca!!!

Pernikahan.
Mungkin, ketika mendengar kata itu orang2 terdekatku akan melirik padaku.
Ada yang sekedar ber-"cie.. Cie..."
Bahkan ada pula yang langsung menarik lenganku ke pojokan dan bertanya serius, "jadi kapan?"

Tahukah teman-teman.
Saya tahu bahwa pernikahan itu katanya sesuatu yang indah. Namun, nyatanya saya menemukan fakta di sekialtar saya yang mengerikan, yang saya sendiri tak sanggup untuk menengoknya.

Saya tahu bahwa pernikahan adalah menggenapkan separuh agama. Dan berarti menjaga dan merawat sebuah pernikahan sama seperti menjaga dan merawat sebuah agama.
Namun, nyatanya menyempurnakan agama yang masih sepotong ini saja masih ketar ketir.

Saya tahu teman, rukun menikah versiNya itu hanya kedua mempelai, wali, saksi, mahar dan ijab qabul.
Namun nyatanya, saya menemukan realita yang lebih sadis, yaitu rukun nikah versi manusia.

Saya tahu teman, menikah itu ibarat berlayar mengarungi gelombang samudra bersama.
Namun nyatanya, sudahkah kita menentukan pulau tujuan kita? Atau bahkan kita saja tidak tahu apa saja SOP seorang Nahkoda, tidak tahu cara membaca peta, tidak tahu apa-apa.

Maka boro-boro berlayar teman, cara berlayarnya saja tidak tahu...
.
Kata mentor pernikahan saya:
"Pernikahan HARMONIS bukanlah pernikahan yang tidak ada KONFLIK didalamnya. Namun, pernikahan harmonis adalah pernikahan yang mampu memanaje konflik secara DEWASA. Karena pernikahan harmonis adalah WARISAN terbaik untuk anak-anak kita"
.
Bagi saya menikah, tidak sama dengan lomba marathon. Toh, kalau menurutmu itu sama, saya sudah terbiasa kalah lomba lari, dan itu bukan problem buat saya. Karena saya bisa mengalahkan kalian dibidang-bidang lain.
Bagi saya menikah bukan soal umur, saya tak secuil pun iri melihat kalian yang sudah menikah duluan. Why? Karna saya sibuk mempersiapkan diri saya untuk membangun pernikahan yang berkualitas dan tak sedekar berkuantitas.
.
Saya tidak mau mewarisi keturunan saya dengan pernikahan yang ala kadarnya. Karena tugas saya setelah menikah adalah melahirkan generasi yang lebih dahsyat dari saya. Bukan generasi alay kaya saya, sebut saja begitu.
.
Apalagi saya seorang perempuan.
Saya akan menjadi dunia untuk suami saya dan anak saya kelak. Jika dunia nya bobrok, apa kabar penghuninya???
Apalagi saya seorang perempuan.
Katanya saya akan jadi sekolah pertama untuk anak saya. Maka saya perlu mencari kepala sekolah yang berkonsep sama dengan saya soal pendidikan.
.
Saya tidak mau berlomba dalam soal pernikahan.
"Tapi kan menikah itu ibadah, urusan ibadah itu harus berlomba-lomba"
Mari kita berlomba dari segi kualitasnya. Saya jamin B.E.D.A