Selasa, 02 Desember 2014

Harga dari dari sebuah cinta

Aku bicara tentang rintik hujan di musim kemarau..
Itu tangisku.. Di dadaku...
Yang mampu diterjemahkan oleh langit, dan tak terbaca oleh matamu

Mencintai kamu, sama seperti mencintai angin
Jika terlalu banyak bisa masuk angin..
Mencintai kamu, sama seperti menggenggam salju
Hatiku kedinginan, dan kau mengalir begitu saja..

Sadarkah kamu,
Kita sering berbincang dalam diam
Tertawa berdua dalam kesunyian yang kita ciptakan sendiri
Bercengkerama dalam bayangan, dan saling menerka perasaan
Ingin mencoba membaca maksud hati, namun tak bisa dijelaskan

Senyummu, adalah alasan mengapa aku tetap tinggal
Alasan mengapa luka-lukaku memilih untuk diam
Hening dan sendiri..

Harusnya keputusan yang kau buat, apapun itu..
Pengkhianatan, beribu sesal..

Aku bersyukur, itu mengajarkan bahwa cinta butuh mengorbanan
Cinta butuh harga itu dibayar,
Dan harga itu cukup mahal...

*diambil dari sebuah musikalisasi puisi dari Daud Antonius..

Senin, 01 Desember 2014

Lagi-lagi tentang kamu, Cinta...

"Biar biarkan cinta, Membuat kisahnya sendiri
Senang, susah, galau, bahagia itu pasti ada
Biar biarkan cinta, Membuat keputusan akhir
Denganmu tanpamu cinta
Kutetap harus hidup, Hidup harus berjalan"
-Biarlah Cinta

Kutipan kalimat di atas saya ambil dari lirik lagu yang berjudul "Biarlah Cinta" yang menjadi ost.film Wanita Tetap Wanita. Ups, Kali ini saya bukan untuk membahas film tersebut. Sebenarnya film tersebut cukup bagus, namun hanya beberapa karakter saja yang menonjol untuk mewakili judulnya.
Dan sekarang disini saya akan bahas tentang sepenggal lirik lagu yang menjadi kutipan awal tulisan ini. Lagi-lagi soal makhluk yang bernama "cinta", mungkin sebagian orang sudah bosan mendengar kata itu, atau bahkan sudah muak. Ya, salah satunya mungkin saya ;)
Entah mengapa setelah beberapa kali mendengar lagu ini, cukup membuat saya terhentak. Yap, benar ternyata cintalah gara-garanya. Mengapa setiap masalah selalu ada sangkutpautnya dengan dia?
sampai sekarang saya pun tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti.
Namun, ada satu larik yang membuat saya tersadar "Kutetap harus hidup, hidup harus berjalan". Wow,.. mungkin ada sebagian orang di dunia ini lebih memilih untuk mati, tak melanjutkan hidup atau paling minimal stress lah, lagi-lagi gara-gara makhluk yang bernama cinta. tapi di lirik ini bagi saya memberikan optimisme sendiri, bahwa apapun itu hidup harus berjalan... Ya, dunia ini terus berputar hingga Sang Maha Cinta itu menghentikannya. 
Mungkin boleh ada pasangan yang saling menyakiti dan tersakiti, dengan sadar maupun tak sadar. Ada orang tua yang hanya memikirkan dirinya sendiri, sampai lupa ada anak yang perlu cinta mereka. Ada sabahat yang mulai egois, yang sudah lupa makna cinta di balik persahabatan mereka. Dan pada ujungnya semua akan bermuara pada kata "Terluka".
Dan yang namanya luka mungkin bisa sembuh, tapi sampai kapanpun bekas tetap ada.
Tapi, yang namanya hidup tetap harus berjalan, tak ada yang mampu menghentikannya selain Tuhan.
dan saya, kamu, kita semua hanya bisa melakoninya.
Biarkan makhluk yang bernama cinta itu membuat ceritanya dan memutuskan akhirnya sendiri. Apakah ia lebih memilih bersahabat dengan luka atau suka??? Saya dan kita semua tak punya hak apa-apa dengan dia.

Kamis, 06 November 2014


Puisi Jaman Sekolah (Alay Bingitttsss!!! PLAK!!!)

            Bias Rindu

Perih, kulukis senyummu
Dalam puing-puing asaku
Di sebagian butir rinduku
Ingin kubuang semua tentangmu

Semua tatap mesramu
Semua bisik manismu
Yang mendera di ruang nafasku
Sampai tak kudapati lagi semua tentangmu

Namun,
Sekejap pun aku tak mampu
Tak mampu kuhindari sepi tanpamu

Rasa itu kerap hadir
Kala aku dalam kesendirian
Dan semakin tak mampu aku tepis
Di rinduku yang tak berakhir

Sunyi tanpamu

            Melapisi lingkaran awan
            Kau membawaku dalam sunyi
            Menyebrangi lembah bintang
            Kau datang kepadaku dengan sunyi

            Alangkah congkaknya aku
            Setelah kutahu tentang kesunyianmu
            Alangkah palsunya aku
            Setelah kutahu tentang kesunyianmu

            Mungkinkah aku berpaling?
            Karena aku tahu akan sunyimu


Luka Rindu

            Biarkan aku istirahat
            Istiharat dalam rinduku
            Menggoreskan semua akanmu
            Mengikur jiwamu dalam mimpiku

            Biarkan aku diam
            Diam dalam malamku
            Menyimpulkan semua rasaku
            Di hari-hariku yang satu

            Malam kian larut
            Larut dalam anganku
            Dingin hati saat itu
            Bagai tiada arti diriku

            Dua malam kulewati dengan sepi
            Sepi hati, semakin sepi
            Hingga ada sebuah tenaga
            Menyelusuk dalam jiwaku

            Tuk berucap, aku rindu Mamah…


            Untuk Ayah dan Bunda

            Sinar itu menghilang
            Saat mataku tertutup
            Sinar senyum itu melenyap
            Saat mataku terlelep

            Suadah berakhirkah semua?
            Saat semua terlelap, tertutup, menjauh…
            Dan kini menghilang…

            Dan kini aku masih sendiri tanpa Ayah dan Bunda
            Sanggupkah???


Andai ini puisi

            Kalau saja dapat kurangkai kata
            Pasti akan tercipta untaian yang indah
            Kalau saja dapat kurangakai kata
            Pasti akan terucap untaian yang indah

            Kalaupun tak aku dapati itu
            Sekiranya dapatku pinjam kata mahaMu
            Kalaupun tak aku dapati itu
            Sekiranya dapatku pinjam kata besarMu

            Lantas pantaskah aku menulis puisi?
            Jika semua kata kupinjam dariMu
            Sanggupkah aku rangkai puisi dengan kataMu
            Sungguh aku tak sanggup

            Tuhan…
            Andai saja berandai melahirkan puisi
            Andai saja puisi adalah doa
            Akan aku buat puisi terindah untukMu


            Mauku

            Aku ingin hidup tanpa norma
            Aku ingin hidup tanpa tuntutan
            Aku ingin sendiri dalam damaiku
            Aku ingin sendiri dalam mauku

            Aku bosan terlindung tuntutan
            Aku bosan terlindung norma
            Dan aku benci hidup ini
            Yang penuh dengan tuntutan serta norma

            Kini, biarkan aku hidup dengan mauku


   Sepertiga Malamku

            Gemercik air yang bening
            Tetesan embun yang menyirami
            Berbalut dinginnya malam
            Membawa salam manisMu

            Angin malam menabuh hijaunya daun
            Bersama nyanyian burung malam
            Malaikat turun ke bumi
            Menyampaikan pesan manisMu

            Adakah yang bertaubat?
            Adakah yang memohon ampunan?
           
            Rabbi…
            Taburkanlah jutaan mutiara maafMu
            Terimalah simpuh sujudku
            Peluk aku dalam syurgaMu

            Duhai malam…
            Sepertiga malam terindah
            Yang penuh belaian Illahi


            Harga hidup

            Hilangkan hidup ini
            Bila hidup terus dengan materi
            Hilangkan hidup ini
            Bila hidup dengan kemuakkan

            Hidupkan kembali jasad ini
            Bila rasa sudah ada
            Bila damai sudah datang
            Bila penghargaan tak lagi digadai

            Karena, hidup tak harus penuh materi serta kemuakkan
            Tapi, hanya rasa menghargai yang haru ada


Dari Sebuah Perjalanan

Telah kututup semua kenangan indah bersamamu
Hingga tak ada lagi wajahmu dalam perjalanan ini
Telah sirna semua kenangan sepi bersamamu
Hingga tak ku dapati lagi semua tentangmu

            Namun di sebuah perjalanan ini
            Tak mampu kuarungi waktu
            Tak sanggup kuarungi jalan berliku
Bila hilang semua bayangmu

Dan kini aku sendiri dalam kematian ini
Di semesta, sempurna ketiadaanku


           Cinta dan dendam

            Langit itu terang
            Karena ada cinta di sana
            Dan pastilah jalan akan benderang

            Langit itu gelap
            Karena adanya dendam di sana
            Dan pastilah jalan akan padam

            Sanggupkah kita arungi kedua jalan itu?
            Adakah cinta di hatimu?
            Adakah dendam di hatimu?

            Dengan cinta hidup akan terang
            Dengan dendam hidup akan padam
            Maka mana yang akan kau jalani?


Harapanku

Di antara hembusan angin
Aku tanya adakah anganku tersimpan?
Di antara pepohonan rindang
Adakah yang tahu anganku tertinggal?
Di balik awan yang indah
Adakah anganku yang indah sepertinya?

Aku berjalan di antara malam-malamku
Aku berlari di dalam mimpi-mimpi belaka
Tapi tak satu pun aku dapati

Namun satu yang masih aku harap
Semoga harapku tersimpan,
tertinggal di balik awan yang indah
dan lebih indah dari mimpiku yang lalu


Antara dirimu dan dirinya

            Malam ini gelap
            Gelap sepi tak bersuara
            Hening senyap tak bernafas
            Kelam sunyi tak bergerak

            Mungkinkah gelap juga hatiku?
            Mungkinkah sunyi juga hatiku?

            Setelah dirimu datang padaku
            Setelah dirimu menjauh dariku
            Setelah dirinya hadir gantikanmu
            Setelah dirinya pergi pula tinggalkanku

            Kini,
            Aku hanya terdiam di keterpurukkanku
            Setelah semua datang dan pergi begitu saja
            Setelah semua hilang tanpa jejak

            Namun aku butuh dirimu
            Juga aku butuh dirinya
            Haruskah aku memilih antara dirimu dan dirinya?

            Bunda

            Bunda adalah cahaya terang
            yang selalu memberi warna
            dalam setiap langkah hidupku

            Bunda adalah payung kehidupanku
            disaat aku dihujani rasa ketakutan
            dan kecemasan

            Bunda adalah sejuta semangat hidupku
            dari hari ke hari

            Dan bunda kaulah pelita hidupku
            sepanjang masa


Sebuah Nisan

            Angin pagi menyapa lara
            Angin berlari merana lara
            Sirna juga lambaianmu
            Hening juga pagimu

            Hanya ratu malam yang meratap
            Karena kepergian sang bulan
            Dan kini bergantikan surya
            Dan kini bergantikan mentari

            Hanya selintas kata aku terucap
            Yang menjelma sosok pemisah
Sebagai pelambang kehidupan
            Saat yang tersisa hanya sebuah nisan

Sesaat Aku

            Saat aku hening dalam cinta
            Saat aku pahit dalam empedu
            Mencari waktu yang berlalu
            Mencari harap yang pergi

            Saat aku membeku dalam salju
            Saat aku padam tercabik luka
            Menghapus masa hidup
            Menghapus masa kasih

            Dan kini,
            Saat aku sendiri dalam ujung kematian


Saat Terakhir

            Hati ini berdiri,
            Saat penompang terbeban nurani
            Saat penahan terhalau udara
            Saat pemberi janji hilang kendali

            Api ini menyala,
            Saat maut menelan hidup
            Saat sunyi membuang bukti
            Saat rindu terampas pergi

            Nisan ini berdiri,
            Saat raga ditelan tanah
            Saat kulit dimakan cacing
            Saat nurani ditemukan dengan munkar dan nakir

            Dalam gelapnya lubang lahat
            Dan hanya cahaya iman yang menyinari.


Untuk hidup bahagia

            Jika aku tertidur kelak
            Ingatlah dispenser air mataku
            Ingatlah rak buku kehidupanku
            Ingatlah etalase harapku

            Di dispenser air mataku
            Tersimpan air mata kebahagiaan
            Untuk kehidupanku
            Yang penuh berjuta harap

            Di rak buku kehidupanku
            Terdapat harap kebahagiaan
            Untuk kehidupan yang berliku ini

            Di etalase harapku
            Semoga tersimpan kehidupan
            Yang membawaku pada kematian
            Untuk air mata kebahagiaan


Mati saja

            Dalam lembaran putih ini
            Tak mampu kuberkutik
            Dalam air kehangatan
            Tak mampu kulupakan

            Siapa lagi selain engkau
            Yang menyelimuti aku dalam khayal
            Siapa lagi selain engkau
            Tempat mengungkapkan rangkulan hati

            Aku hampa,
            Semua pergi dari hidupku
            Aku kelu,
            Semua berlalu tanpa menyapaku

            Aku benci hidup ini
            Aku ingin mati!!!


Rindu yang mati

            Rinduku padamu
            Tak seperti seutas benang putih itu
            Rinduku padamu
            Tak sesempit ruangan ini

            Rinduku sejuta asamu
            Yang mengapung luas di angkasa
            Rinduku sejuta tepisanmu
            Yang kini berlabuh jauh dari matamu

            Dua hari kulewati rinduku
            Dua hari kulewati asaku
            Namun semua berlalu
            Karena rinduku tlah mati bersama asamu


Hariku

            Matahariku…
            Saatnya untuk dirimu untuk
            menyinari bumi
            Agar manusia tak gelap dalam berjalan

            Bulanku…
            Sinari malam ini
dengan pantulan cahaya indahmu                                                                  
            Agar malam ini tampak mengesankan

            Bintangku…
            Temanilah sang rembulan
            Taburkanlah jutaan keindahanmu malam ini
            Agar hatiku tak berduka


Cinta Sejati

            Sapaannya masih terngiang
            Sapaannya masih teruntai
            Lukisan simpul senyumnya
masih tersimpul manis di bayanganku

            Ingin kudapati lagi semua itu
            Sapaan dan simpul manisnya
            Ingin aku teguk kembali
            Uraian sapaan senyumnya

            Walaupun mesti untuk terakhir kalinya
            Walaupun setelah ini semua itu menjadi milik yang lain

            Mungkinkah sudah saatnya
aku kehilangan cinta sejati?
Mungkinkah sudah tak ada lagi
semua cinta sejati itu?

Entah mengapa hari ini begitu gelap
Dan tak ada seorang pun memberi tahu
            Apa aku tak tahu cinta sejati itu???

            Biarlah,
            Sudah biarkan semua mengalir
            Agar aku tahu, apa itu cinta sejati?

Kasih

            Kasih…
            Dalam sunyi ini tlah kubaca
            lembaran tangis dan tawamu

            Kasih…
            Dalam sunyi ini tlah kukutip
            sejarah hitam dan putihmu

            Kasih…
            Dalam sunyi ini tlah kusemat
            janji yang ada antara kita di hati

            Namun
Setelah kubaca kukutip dan kusemat
semua tentang kita,
tak kutemukan garis cintamu untukku

Lalu apa arti janjimu padaku?
Palsukah???


            Bisu

            Aku memang tak tahu
            Aku memang sering keliru
            Aku memang dungu
            Hingga pada akhirnya aku hanya diam membisu
            … … … … … … …

           
Pesan Untuk Sahabat

            Andai aku mati
            Lupakan aku dalam dosamu
            Kenang namaku dalam dzikirku
            Buang namaku bila kau lupa aku
            Sahabat...


Sajakku “Palestina”

            Kutulis sajak ini
            Dengan penuh genangan airmata
            Kutulis kutipan ini
            Dengan asa yang memuncak
            Dalam derai tangis dan rintih
            Kulantunkan doa untukmu
            Wahai Al-Aqso
            Palestina negeriku

            Kutulis sajak ini
            Dengan penuh geram untukmu ISRAEL
            Kukutip sajak ini
            Dengan penuh benci untukmu ZIONIS
            Dalam derai tawa dan gelagakmu
            Kulayangkan kutukan terbesar untukmu
            Wahai para biadab durjana
            Sang pecundang sejati

            Kembalikan Paletinaku
            Kembaliakn Al-Aqsoku


Dalam pusara janji

Hatiku menggulung dalam gumpalan awan
Mengumbung asa pada pusara langit
Menyelami dalamnya lautan memori
Dan tenggelam ke benua penghianatan

Hatiku mencekik ribuan rasa
Yang mengawang terbang di angkasa
Tanpa terhenti dan takkan terhenti
Walau hatiku tlah kelabu bersama waktu


*puisi-puisi ini ditulis saat masih sekolah di MAN 2 Serang. masih ngaco bahasanya dan semau-mau. maklum puisi ini ditulis di perpustakaan, saat tak ada guru di kelas atau saat menghindar dari guru yang tak disuka hehe.. (nakal ya..!). oia, saya ucapkan terika kasih buat sahabatku Nindiya Syarha (nama penanya..) yang sudah nyimpen filenya... :) 

Air Mata

Apakah kamu masih ingat tetes bening yang mengalir di sudut mata ini?
Dulu, kau yang mengusapnya.
Tak berkata apa-apa tadi lembut senyummu cukup menenangkanku.

Ya, pasti kau mulai menebak.
tapi tak perlu kau bertanya aku akan mulai bercerita.
bercerita hal yang sama.
yang berkali-kali kau dengar dari bibir tipis ini.
aku bercermin dulu ya...*pasti jelek banget :(
kau hanya menggeleng dan tersenyum.


"Huft, baru inget klo punya blog yang dianggurin... "


Selasa, 30 September 2014

Sepotong Kata yang Terlupakan



Selesai jam kantor hari ini, aku ingin sekali cepat sampai rumah. Aku ingin segera mandi, sholat Maghrib, makan dan istirahat untuk meluruskan semua otot-otot pinggang dan punggung yang kaku akibat seharian duduk di depan komputer.
Aku berjalan menelusuri jalan menuju tempat kostku, tidak begitu jauh sehingga cukup dengan berjalan kaki. Sebenarnya aku ada mobil, tapi jarak kantor dan tempat kerja cukup dekat jadi lebih baik jalan kaki saja. Sesampai di depan pagar rumah kost, aku melihat seseorang tengah berdiri tepat di depan pintu kamarku, karena sore itu sudah gelap dan lampu depan kamarku pun belum dinyalakan, aku sedikit kesulitan menebak siapa dia. Aku mendekat, tepatnya berjalan cukup hati-hati, karena tetangga kostku pun masih sepi, kemungkinan mereka belum pulang dari kantornya.
“Baru pulang?”
Deg!
Suara itu, aku kenal. Setelah tepat di depan pintu kamar aku baru dapat melihat dengan jelas seseorang yang menunggu dan menyapaku.
“Juna?” Aku memasang wajah kaget. Beda sekali dia. Terakhir aku bertemu dengannya dua tahun lalu.
Dia hanya tersenyum. Senyumnya masih sama, gundamku dalam hati.
“Jadi aku dibiarin terus berdiri di sini setelah menunggu dua jam?”
Aku baru tersadar dari lamunan. “Oh, iya. Silahkan.” Aku segera membuka pintu kamar dan mempersilahkannya masuk dan membiarkan pintu tetap terbuka.
“Masih ingat tempat kostku di sini?”
“Ya. Awalnya sempat ragu, takut kamu sudah pindah ke tempat lain. Tapi tadi aku tanya ke tetangga yang di ujung dia bilang kamu masih di sini.”
Aku hanya tersenyum dan menyediakan minum dan cemilan kecil.
“Aku mandi dulu ya. Kamu sholat saja di masjid depan.”
Dia mengangguk dan tersenyum. “Seperti biasa, cuman kamu yang selalu nyuruh aku sholat di masjid.”
Aku kembali tersenyum dan dia beranjak ke masjid.
***
Karena persediaan makan berat di tempatku sudah menipis, aku mengajak Juna makan di luar. Seperti biasa aku memesan bakso dan dia memesan nasi goreng.
“Masih suka bakso?” Juna melirikku yang sedang menuangkan sambal dan kecap.
“Tentu.” Jawabku singkat. “Bagaimana di Jepang?”
“Begitulah. Aku tetap saja lebih suka di Indonesia.”
“Kenapa?”
“Karena mamah, Mbak Shopi, Dewa dan kamu.”
“Aku? Apa hubungannya sama aku?” Aku mencoba menyembunyikan ekspresi kegeeranku.
“Kamu lupa tentang rencanaku? Atau lebih tepatnya rencanaku denganmu?” Dia mengerutkan kening dan menatapku dalam.
Aku kemudian tersenyum. “Tentu aku masih ingat, Mas. Dan tak pernah aku lupakan itu. Malah kalau kamu lupa aku akan menagihnya padamu.” Aku mulai memanggilnya dengan sapaan “mas”, seperti dulu.
“Tapi aku tidak pelupa ‘kan?” matanya sedikit menggodaku.
Aku hanya tersenyum padanya, pada dia lelaki yang kutunggu selama dua tahun tanpa kabar dan kepastian. Lelaki yang kelak membawaku dan anak-anakku ke surga. Semoga.
Selesai makan kami segera ke luar area itu. Aku menunggu di pintu keluar sementara Juna ke parkiran.
Di luar tempat makan, seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya datang menghampiriku.
"Beri kami sedekah, Bu!" Wanita pengemis itu berkata kepadaku.
Aku kemudian membuka dompet lalu menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 5000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Namun wanita itu hanya diam melihat uangku yang sudah berpindah di tangannya. Tak ada sepotong kata yang terucap dari bibirnya.
“Kenapa? Kurang ya, Bu?”
Putri kecilnya mengangguk dan seperti hendak mengatakan sesuatu namun wanita itu segera mengacungkan jari telunjuknya dan meletakkannya di depan mulutnya.
“Tidak, Bu. Terima kasih.” Wanita itu segera pergi menuntun pergi putri kecilnya.
Tak lama mobil Juna datang. “Maaf lama, mobilku tak bisa keluar, parkirnya penuh.”
Aku hanya mengangguk dan segera duduk di sampingnya.
Keluar dari area tempat makan, aku melihat kembali wanita pengemis yang tadi meminta uang padaku. Dia sedang duduk bersama putrinya di pinggir jalan sambil menikmati gorengan dan satu botol air mineral di sampingnnya. Melihat pemandangan itu air mataku meleleh. Hatiku seperti didombak keras. Bodoh sekali aku tadi bertanya apakah uang pemberianku kurang atau tidak. Sudah jelas-jelas pasti kurang. Padahal uang yang tadi aku bayarkan saat makan malam saja lebih dari lima ribu rupiah. Dasar bodoh sekali aku!
“Mengapa menangis, Fen?” Rupanya Juna melihat aku menangis.
“Berhenti, Mas!” dengan spontan Juna mengerem mobilnya, untung saja saat itu jalanan tidak begitu ramai. Aku segera keluar mobil dan berlari menghampiri wanita pengemis tadi.
“Maaf,”
Putri kecilnya tersenyum melihatku. Mungkin dia masih ingat dengan wajahku.
“Ini buat kamu, Dek.” Aku menyodorkan selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah.
Wanita itu kaget melihat uang yang aku sodorkan, mungkin begitu besar di mata mereka. Setelah uangku berpindah ke tangan mungil anaknya. Wanita itu langsung meraih tanganku dan meciuminya tak henti-henti.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih, Bu! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk Ibu dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk Ibu dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga Ibu dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"
Aku tidak menyangka akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Aku mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja sama seperti tadi dan awalnya aku pun tidak peduli apa yang akan dia ucapkan, hatiku hanya murni ingin memberi, hanya ingin mereka pun menikmati makanan enak sampai kenyang seperti aku. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis itu sungguh membuatku terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi aku mendengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Nak, Alhamdulillah akhirnya rizki untuk kakakmu dan bapak di rumah juga datang.”
Deg!
Hatiku tergedor kembali dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar tidak hanya ia dan putrinya yang bisa makan, tapi keluarga yang di rumahnya juga. Kemudian mereka berdua berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal, mungkin untuk membeli makan.
Aku masih diam di sana.
“Sudah?” Juna menepuk pundakku.
“Eh, iya. Hayo pulang.” Aku mencoba menghapus air mataku.
Di dalam mobil aku masih saja terdiam, aku sendiri tak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Hanya menatap ke depan dengan  kosong.
“Kamu melamunkan apa, Fen?”
“Kamu tahu tidak, Mas? Aku tadi memberi sedekah kepada pengemis itu hanya sebagian kecil dari uang-uang yang selama ini aku dapatkan. Namun, saat menerimanya, dia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan keluargaku, anak-anakku yang aku sendiri pun belum pernah berdoa untuk mereka karena memang mereka belum ada. Panjang sekali dia berdoa, Mas.”
Aku menghela nafas panjang.
“Dia hanya menerima karunia dari Allah sebesar lima puluh ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal setiap kali aku mengecek saldo di ATM dan melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk, tersenyum dan sesekali mengucap hamdalah. Mas..., aku malu kepada Allah!” Aku memalingkan muka keluar jendela. Menatap langit yang kian menghitam. Tanpa bintang.
“Dia terima hal yang sangat kecil bagiku namun bersyukurnya begitu hebat kepada Allah dan berterima kasih kepadaku.” Ucapku lirih. Entah Juna mendengarnya atau tidak.
Juna memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Terdiam, melirikku dan kembali menatap jauh di depannya. Aku dapat menebak, dia sedang memikirkan hal yang sama denganku.
“Kalau memang begitu. Kita belum bisa masuk surga, Fen. Wanita yang mempunyai berjuta syukur tadi yang lebih berhak.”
Aku melirik Juna. “Mulai sekarang selalu ingatkan aku ya, Mas.”
“Tapi hari ini kamu yang mengingatkan aku. Aku bahkan jarang mengucapkan kalimah ‘hamdalah’ itu.”
Dia menatapku dalam. “Masih mau membangun rencana itu denganku, Fen?”
Aku mengangguk.
“Aku hanya berharap Allah selalu mengingatkan kita dengan cara-cara terbaikNya.”
“Terima kasih, Fen…”
Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!
***
30 Juli 2011