Bias
Rindu
Perih, kulukis
senyummu
Dalam
puing-puing asaku
Di sebagian butir rinduku
Ingin kubuang semua tentangmu
Semua tatap mesramu
Semua bisik manismu
Yang mendera di ruang nafasku
Sampai tak kudapati lagi semua tentangmu
Namun,
Sekejap pun aku tak mampu
Tak mampu kuhindari sepi tanpamu
Rasa itu kerap hadir
Kala aku dalam kesendirian
Dan semakin tak mampu aku tepis
Di rinduku yang tak berakhir
Sunyi tanpamu
Melapisi lingkaran awan
Kau membawaku dalam sunyi
Menyebrangi lembah bintang
Kau datang kepadaku dengan sunyi
Alangkah congkaknya aku
Setelah kutahu tentang kesunyianmu
Alangkah palsunya aku
Setelah kutahu tentang kesunyianmu
Mungkinkah aku berpaling?
Karena aku tahu akan sunyimu
Luka Rindu
Biarkan aku istirahat
Istiharat dalam rinduku
Menggoreskan semua akanmu
Mengikur jiwamu dalam mimpiku
Biarkan aku diam
Diam dalam malamku
Menyimpulkan semua rasaku
Di hari-hariku yang satu
Malam kian larut
Larut dalam anganku
Dingin hati saat itu
Bagai tiada arti diriku
Dua malam kulewati dengan sepi
Sepi hati, semakin sepi
Hingga ada sebuah tenaga
Menyelusuk dalam jiwaku
Tuk berucap, aku rindu Mamah…
Untuk Ayah dan Bunda
Sinar itu menghilang
Saat mataku tertutup
Sinar senyum itu melenyap
Saat mataku terlelep
Suadah berakhirkah semua?
Saat semua terlelap,
tertutup, menjauh…
Dan kini menghilang…
Dan kini aku masih sendiri tanpa Ayah dan Bunda
Sanggupkah???
Andai ini puisi
Kalau saja dapat kurangkai kata
Pasti akan tercipta untaian yang indah
Kalau saja dapat kurangakai kata
Pasti akan terucap untaian yang
indah
Kalaupun tak aku dapati itu
Sekiranya dapatku pinjam kata mahaMu
Kalaupun tak aku dapati itu
Sekiranya dapatku pinjam kata
besarMu
Lantas pantaskah aku menulis puisi?
Jika semua kata kupinjam dariMu
Sanggupkah aku rangkai puisi dengan kataMu
Sungguh aku tak sanggup
Tuhan…
Andai saja berandai melahirkan puisi
Andai saja puisi adalah doa
Akan aku buat puisi terindah untukMu
Mauku
Aku ingin hidup tanpa
norma
Aku ingin hidup tanpa
tuntutan
Aku ingin sendiri dalam
damaiku
Aku ingin sendiri dalam mauku
Aku bosan terlindung tuntutan
Aku bosan terlindung norma
Dan aku benci hidup ini
Yang penuh dengan tuntutan serta norma
Kini, biarkan aku hidup dengan mauku
Sepertiga Malamku
Gemercik air yang bening
Tetesan embun yang
menyirami
Berbalut dinginnya malam
Membawa salam manisMu
Angin malam menabuh
hijaunya daun
Bersama nyanyian burung
malam
Malaikat turun ke bumi
Menyampaikan pesan manisMu
Adakah yang bertaubat?
Adakah yang memohon
ampunan?
Rabbi…
Taburkanlah jutaan mutiara
maafMu
Terimalah simpuh sujudku
Peluk aku dalam syurgaMu
Duhai malam…
Sepertiga malam terindah
Yang penuh belaian Illahi
Harga
hidup
Hilangkan hidup ini
Bila hidup terus dengan materi
Hilangkan hidup ini
Bila hidup dengan kemuakkan
Hidupkan kembali jasad ini
Bila rasa sudah ada
Bila damai sudah datang
Bila penghargaan tak lagi
digadai
Karena, hidup tak harus penuh materi serta
kemuakkan
Tapi, hanya rasa menghargai yang haru ada
Dari Sebuah Perjalanan
Telah kututup
semua kenangan indah bersamamu
Hingga tak ada
lagi wajahmu dalam perjalanan ini
Telah sirna semua
kenangan sepi bersamamu
Hingga tak ku
dapati lagi semua tentangmu
Namun di sebuah perjalanan ini
Tak mampu kuarungi waktu
Tak sanggup kuarungi jalan berliku
Bila hilang semua bayangmu
Dan kini aku
sendiri dalam kematian ini
Di semesta,
sempurna ketiadaanku
Cinta dan dendam
Langit itu terang
Karena ada cinta di sana
Dan pastilah jalan akan benderang
Langit itu gelap
Karena adanya dendam di sana
Dan pastilah jalan akan padam
Sanggupkah kita arungi kedua jalan itu?
Adakah cinta di hatimu?
Adakah dendam di hatimu?
Dengan cinta hidup akan terang
Dengan dendam hidup akan padam
Maka mana yang akan kau jalani?
Harapanku
Di antara hembusan angin
Aku tanya adakah anganku tersimpan?
Di antara pepohonan rindang
Adakah yang tahu anganku tertinggal?
Di balik awan yang indah
Adakah anganku yang indah sepertinya?
Aku berjalan di antara malam-malamku
Aku berlari di dalam mimpi-mimpi belaka
Tapi tak satu pun aku dapati
Namun satu yang masih aku harap
Semoga harapku tersimpan,
tertinggal di balik awan yang indah
dan lebih indah dari mimpiku yang lalu
Antara dirimu dan dirinya
Malam ini gelap
Gelap sepi tak bersuara
Hening senyap tak bernafas
Kelam sunyi tak bergerak
Mungkinkah gelap juga hatiku?
Mungkinkah sunyi juga hatiku?
Setelah dirimu datang padaku
Setelah dirimu menjauh dariku
Setelah dirinya hadir gantikanmu
Setelah dirinya pergi pula tinggalkanku
Kini,
Aku hanya terdiam di keterpurukkanku
Setelah semua datang dan pergi
begitu saja
Setelah semua hilang tanpa jejak
Namun aku butuh dirimu
Juga aku butuh dirinya
Haruskah aku memilih antara dirimu
dan dirinya?
Bunda
Bunda adalah cahaya terang
yang selalu memberi warna
dalam setiap langkah hidupku
Bunda adalah payung kehidupanku
disaat aku dihujani rasa ketakutan
dan kecemasan
Bunda adalah sejuta semangat hidupku
dari hari ke hari
Dan bunda kaulah pelita hidupku
sepanjang masa
Sebuah Nisan
Angin pagi menyapa lara
Angin berlari merana lara
Sirna juga lambaianmu
Hening juga pagimu
Hanya ratu malam yang meratap
Karena kepergian sang bulan
Dan kini bergantikan surya
Dan kini bergantikan mentari
Hanya selintas kata aku terucap
Yang menjelma sosok pemisah
Sebagai pelambang kehidupan
Saat yang tersisa hanya sebuah nisan
Sesaat Aku
Saat aku hening dalam cinta
Saat aku pahit dalam empedu
Mencari waktu yang berlalu
Mencari harap yang pergi
Saat aku membeku dalam salju
Saat aku padam tercabik luka
Menghapus masa hidup
Menghapus masa kasih
Dan kini,
Saat aku sendiri dalam ujung
kematian
Saat Terakhir
Hati ini berdiri,
Saat penompang terbeban nurani
Saat penahan terhalau udara
Saat pemberi janji hilang kendali
Api ini menyala,
Saat maut menelan hidup
Saat sunyi membuang bukti
Saat rindu terampas pergi
Nisan ini berdiri,
Saat raga ditelan tanah
Saat kulit dimakan cacing
Saat nurani ditemukan dengan munkar
dan nakir
Dalam gelapnya lubang lahat
Dan hanya cahaya iman yang
menyinari.
Untuk hidup bahagia
Jika aku tertidur kelak
Ingatlah dispenser air mataku
Ingatlah rak buku kehidupanku
Ingatlah etalase harapku
Di dispenser air mataku
Tersimpan air mata kebahagiaan
Untuk kehidupanku
Yang penuh berjuta harap
Di rak buku kehidupanku
Terdapat harap kebahagiaan
Untuk kehidupan yang berliku ini
Di etalase harapku
Semoga tersimpan kehidupan
Yang membawaku pada kematian
Untuk air mata kebahagiaan
Mati saja
Dalam lembaran putih ini
Tak mampu kuberkutik
Dalam air kehangatan
Tak mampu kulupakan
Siapa lagi selain engkau
Yang menyelimuti aku dalam khayal
Siapa lagi selain engkau
Tempat mengungkapkan rangkulan hati
Aku hampa,
Semua pergi dari hidupku
Aku kelu,
Semua berlalu tanpa menyapaku
Aku benci hidup ini
Aku ingin mati!!!
Rindu yang mati
Rinduku padamu
Tak seperti seutas benang putih itu
Rinduku padamu
Tak sesempit ruangan ini
Rinduku sejuta asamu
Yang mengapung luas di angkasa
Rinduku sejuta tepisanmu
Yang kini berlabuh jauh dari matamu
Dua hari kulewati rinduku
Dua hari kulewati asaku
Namun semua berlalu
Karena rinduku tlah mati bersama
asamu
Hariku
Matahariku…
Saatnya untuk dirimu untuk
menyinari bumi
Agar manusia tak gelap dalam
berjalan
Bulanku…
Sinari malam ini
dengan pantulan cahaya indahmu
Agar malam ini tampak mengesankan
Bintangku…
Temanilah sang rembulan
Taburkanlah jutaan keindahanmu malam
ini
Agar hatiku tak berduka
Cinta Sejati
Sapaannya masih terngiang
Sapaannya masih teruntai
Lukisan simpul senyumnya
masih tersimpul manis di bayanganku
Ingin kudapati lagi semua itu
Sapaan dan simpul manisnya
Ingin aku teguk kembali
Uraian sapaan senyumnya
Walaupun mesti untuk terakhir
kalinya
Walaupun setelah ini semua itu
menjadi milik yang lain
Mungkinkah sudah saatnya
aku kehilangan cinta sejati?
Mungkinkah sudah tak ada lagi
semua cinta sejati itu?
Entah mengapa hari ini begitu gelap
Dan tak ada seorang pun memberi tahu
Apa aku tak tahu cinta sejati itu???
Biarlah,
Sudah biarkan semua mengalir
Agar aku tahu, apa itu cinta sejati?
Kasih
Kasih…
Dalam sunyi ini tlah kubaca
lembaran tangis dan tawamu
Kasih…
Dalam sunyi ini tlah kukutip
sejarah hitam dan putihmu
Kasih…
Dalam
sunyi ini tlah kusemat
janji yang ada antara kita di hati
Namun
Setelah kubaca kukutip dan kusemat
semua tentang kita,
tak kutemukan garis cintamu untukku
Lalu apa arti janjimu padaku?
Palsukah???
Bisu
Aku memang tak tahu
Aku memang sering keliru
Aku memang dungu
Hingga pada akhirnya aku hanya diam
membisu
… … … … … … …
Pesan Untuk Sahabat
Andai aku mati
Lupakan aku dalam dosamu
Kenang namaku dalam dzikirku
Buang namaku bila kau lupa aku
Sahabat...
Sajakku “Palestina”
Kutulis sajak ini
Dengan penuh genangan airmata
Kutulis kutipan ini
Dengan asa yang memuncak
Dalam derai tangis dan rintih
Kulantunkan doa untukmu
Wahai Al-Aqso
Palestina negeriku
Kutulis sajak ini
Dengan penuh geram untukmu ISRAEL
Kukutip sajak ini
Dengan penuh benci untukmu ZIONIS
Dalam derai tawa dan gelagakmu
Kulayangkan kutukan terbesar untukmu
Wahai para biadab durjana
Sang pecundang sejati
Kembalikan Paletinaku
Kembaliakn Al-Aqsoku
Dalam pusara janji
Hatiku menggulung
dalam gumpalan awan
Mengumbung asa
pada pusara langit
Menyelami
dalamnya lautan memori
Dan tenggelam ke
benua penghianatan
Hatiku mencekik
ribuan rasa
Yang mengawang
terbang di angkasa
Tanpa terhenti
dan takkan terhenti
Walau hatiku tlah
kelabu bersama waktu
*puisi-puisi ini ditulis saat masih sekolah di MAN 2 Serang. masih ngaco bahasanya dan semau-mau. maklum puisi ini ditulis di perpustakaan, saat tak ada guru di kelas atau saat menghindar dari guru yang tak disuka hehe.. (nakal ya..!). oia, saya ucapkan terika kasih buat sahabatku Nindiya Syarha (nama penanya..) yang sudah nyimpen filenya... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar